Rabies: Kenali Gejala, Cara Penularan, dan Langkah Pertama Setelah Digigit Hewan

Rabies: Kenali Gejala, Cara Penularan, dan Langkah Pertama Setelah Digigit Hewan

Rabies merupakan penyakit infeksi virus yang menyerang sistem saraf pusat dan dapat menyebabkan kematian apabila gejala klinis sudah muncul. Penyakit ini termasuk zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Penularan paling sering terjadi melalui air liur hewan yang terinfeksi, terutama melalui gigitan.

Meskipun sangat berbahaya, rabies sebenarnya dapat dicegah. Penanganan yang cepat dan tepat setelah seseorang mengalami gigitan atau cakaran dari hewan yang berpotensi membawa virus rabies dapat mencegah virus berkembang menjadi penyakit.

Di Indonesia, kewaspadaan terhadap rabies masih diperlukan. Kementerian Kesehatan melalui Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/508/2025 mencatat 185.359 kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) dan 122 kematian akibat rabies pada manusia sepanjang 2024. Hingga 7 Maret 2025, telah dilaporkan 13.453 kasus GHPR dan 25 kematian.

Oleh karena itu, masyarakat perlu mengetahui gejala rabies, cara penularan, ciri-ciri rabies pada hewan, serta langkah pertama setelah gigitan anjing atau hewan lainnya.


Apa Itu Rabies?

Rabies adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus rabies dan menyerang sistem saraf pusat. Penyakit ini termasuk zoonosis karena virus dapat berpindah dari hewan terinfeksi kepada manusia.

Menurut WHO, rabies masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di lebih dari 150 negara dan wilayah, terutama di Asia dan Afrika. Anjing merupakan sumber utama penularan rabies pada manusia dan berperan dalam sekitar 99% kasus rabies pada manusia yang ditularkan melalui anjing.

Setelah virus masuk melalui luka, virus dapat bergerak menuju sistem saraf pusat. Masa inkubasinya bervariasi, dapat berlangsung selama beberapa minggu hingga beberapa bulan. Lokasi dan beratnya paparan, kedekatan luka dengan otak, serta faktor lain dapat memengaruhi lamanya masa inkubasi.

Hal penting yang perlu dipahami adalah jangan menunggu gejala rabies muncul untuk mencari pertolongan. Profilaksis pascapajanan atau post-exposure prophylaxis (PEP) yang diberikan segera setelah paparan dapat mencegah berkembangnya penyakit.


Bagaimana Rabies Menular?

Virus rabies terdapat dalam air liur hewan yang terinfeksi. Penularan kepada manusia dapat terjadi ketika air liur tersebut masuk melalui:

  • Gigitan hewan yang terinfeksi.
  • Cakaran yang terkontaminasi air liur.
  • Jilatan pada kulit yang terluka.
  • Jilatan pada selaput lendir, misalnya mata atau mulut.

Hewan yang dapat membawa dan menularkan rabies antara lain anjing, kucing, kera, kelelawar, dan beberapa mamalia lainnya. Namun, risiko penularan berbeda-beda tergantung spesies hewan, kondisi hewan, lokasi kejadian, serta status rabies di wilayah tersebut.

Karena itu, gigitan anjing rabies tidak boleh dianggap sebagai luka biasa, terutama apabila status vaksinasi hewan tidak diketahui atau hewan menunjukkan perilaku yang tidak normal.

Gejala Rabies pada Manusia

Gejala rabies tidak selalu muncul segera setelah seseorang digigit. Pada fase awal, gejalanya dapat menyerupai penyakit infeksi lain sehingga terkadang sulit dikenali.

Menurut CDC, gejala awal dapat berupa:

  • Demam.
  • Sakit kepala.
  • Badan lemas atau tidak enak badan.
  • Nyeri atau sensasi tidak normal di sekitar lokasi gigitan.
  • Mual.
  • Rasa kesemutan, nyeri, atau sensasi terbakar pada area luka.

Setelah penyakit berkembang, dapat muncul gangguan pada sistem saraf seperti kecemasan, kebingungan, agitasi, halusinasi, kesulitan menelan, gangguan tidur, serta hidrofobia atau takut air. Pada sebagian pasien dapat terjadi kelumpuhan.

Gejala rabies yang sudah berkembang menjadi gangguan saraf merupakan kondisi yang sangat serius. WHO menyebutkan bahwa setelah virus mencapai sistem saraf pusat dan gejala klinis muncul, rabies hampir selalu berakibat fatal.

Karena itu, pencegahan setelah pajanan jauh lebih penting daripada menunggu ciri-ciri rabies muncul.

Ciri-Ciri Hewan yang Diduga Rabies

Masyarakat perlu berhati-hati apabila menemukan hewan yang menunjukkan perubahan perilaku secara tiba-tiba.

Pada anjing, misalnya, tanda yang dapat muncul meliputi perubahan perilaku, menjadi lebih agresif atau justru sangat pasif, kesulitan menelan, air liur berlebihan, suara berubah, berjalan tidak normal, kejang, hingga kelumpuhan. Namun, ciri-ciri rabies pada hewan tidak dapat digunakan sendiri untuk memastikan diagnosis.

Hewan yang terlihat sehat juga tidak selalu berarti seseorang aman dari risiko setelah terjadi paparan. Oleh sebab itu, keputusan mengenai perlu tidaknya vaksinasi dan penanganan medis harus dilakukan berdasarkan penilaian tenaga kesehatan serta informasi mengenai hewan dan jenis paparannya.

Jika memungkinkan dan aman, hewan yang menggigit dapat dilaporkan kepada petugas kesehatan hewan atau instansi terkait untuk dilakukan penanganan dan observasi sesuai ketentuan setempat. Jangan mencoba menangkap atau menangani hewan yang agresif dengan risiko membahayakan diri sendiri.


Apa yang Harus Dilakukan Setelah Digigit Hewan?

Ini merupakan bagian terpenting yang harus diketahui masyarakat.

1. Segera cuci luka selama minimal 15 menit

Setelah gigitan atau cakaran, segera cuci luka menggunakan sabun atau deterjen dan air mengalir selama minimal 15 menit.

Pencucian luka bertujuan membersihkan area paparan dan membantu mengurangi jumlah virus pada lokasi masuknya virus. WHO merekomendasikan pencucian luka secara menyeluruh sesegera mungkin setelah kemungkinan paparan rabies.

Jangan menunggu sampai luka terasa sakit atau menunjukkan tanda infeksi.

2. Gunakan antiseptik setelah pencucian

Setelah luka dicuci secara menyeluruh, dapat diberikan antiseptik sesuai anjuran tenaga kesehatan. Hindari mengoleskan bahan-bahan tradisional atau zat yang tidak terbukti efektif untuk mencegah rabies. Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa penggunaan bahan atau pengobatan alternatif yang tidak memiliki bukti ilmiah bukan cara yang tepat untuk mencegah rabies.

3. Segera pergi ke fasilitas kesehatan

Setelah mencuci luka, segera datang ke Puskesmas, rumah sakit, atau Rabies Center untuk mendapatkan penilaian risiko.

Tenaga kesehatan akan menilai jenis paparan, lokasi luka, kondisi hewan, serta faktor lain untuk menentukan apakah diperlukan Vaksin Anti Rabies (VAR) dan, pada kondisi tertentu, Serum Anti Rabies atau rabies immunoglobulin (RIG).

Jangan menunggu munculnya gejala rabies sebelum berobat.

4. Sampaikan informasi tentang hewan yang menggigit

Jika diketahui, sampaikan kepada tenaga kesehatan:

  • Jenis hewan.
  • Waktu kejadian.
  • Lokasi gigitan atau cakaran.
  • Kondisi dan perilaku hewan.
  • Status vaksinasi hewan jika diketahui.
  • Apakah luka menembus kulit atau mengeluarkan darah.
  • Apakah air liur hewan mengenai luka, mata, atau mulut.

Informasi tersebut membantu tenaga kesehatan melakukan penilaian terhadap risiko paparan rabies.


Apakah Semua Gigitan Anjing Harus Mendapat Vaksin Rabies?

Tidak semua kontak dengan hewan otomatis memiliki tingkat risiko yang sama. WHO membagi paparan rabies berdasarkan jenis kontak.

Kontak tanpa pajanan, seperti menyentuh atau memberi makan hewan atau jilatan pada kulit yang masih utuh, pada prinsipnya tidak memerlukan profilaksis rabies. Sementara itu, cakaran ringan atau abrasi tanpa perdarahan dapat memerlukan vaksinasi, dan gigitan yang menembus kulit atau paparan air liur pada luka maupun selaput lendir dapat memerlukan vaksinasi serta rabies immunoglobulin sesuai penilaian klinis.

Karena penentuan kategori paparan dapat memengaruhi terapi, jangan menentukan sendiri apakah vaksin rabies diperlukan atau tidak.


Apakah Rabies Bisa Disembuhkan?

Rabies dapat dicegah secara efektif apabila seseorang mendapatkan penanganan yang tepat setelah terpapar sebelum penyakit berkembang.

WHO menyebutkan bahwa PEP yang tepat, yang mencakup penanganan luka, vaksin rabies, dan pemberian rabies immunoglobulin bila diperlukan, hampir 100% efektif dalam mencegah kematian akibat rabies apabila diberikan secara tepat sebelum munculnya gejala.

Sebaliknya, setelah gejala klinis rabies berkembang, penyakit ini hampir selalu berakibat fatal. Inilah alasan mengapa waktu sangat penting setelah terjadi gigitan atau cakaran hewan yang berisiko.


Cara Mencegah Rabies

Pencegahan rabies tidak hanya dilakukan setelah terjadi gigitan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan masyarakat antara lain:

  1. Vaksinasi hewan peliharaan secara rutin, terutama anjing dan kucing, sesuai rekomendasi dokter hewan.
  2. Jangan membiarkan hewan peliharaan berkeliaran tanpa pengawasan.
  3. Hindari menyentuh atau mendekati hewan liar atau hewan yang menunjukkan perilaku tidak normal.
  4. Ajarkan anak-anak untuk tidak mengganggu atau mendekati hewan yang tidak dikenal.
  5. Jangan mencoba menangkap hewan yang agresif atau dicurigai terkena rabies.
  6. Segera cuci luka selama 15 menit apabila terjadi gigitan atau cakaran.
  7. Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan setelah mengalami paparan yang berisiko.

Vaksinasi hewan merupakan salah satu strategi utama untuk menghentikan penularan rabies dari sumbernya. WHO menempatkan vaksinasi massal anjing sebagai langkah penting dalam upaya mengakhiri kematian manusia akibat rabies yang ditularkan oleh anjing.


Kapan Harus Segera ke Rumah Sakit?

Segera cari pertolongan medis setelah mengalami gigitan atau cakaran dari hewan yang berpotensi menularkan rabies, terutama jika:

  • Hewan tidak diketahui status vaksinasinya.
  • Hewan menunjukkan perilaku tidak normal.
  • Hewan liar atau tidak dikenal.
  • Gigitan menyebabkan luka terbuka atau perdarahan.
  • Air liur hewan mengenai luka, mata, atau mulut.
  • Gigitan terjadi di wajah, kepala, leher, tangan, atau area dengan banyak persarafan.
  • Korban adalah anak-anak.
  • Hewan tidak dapat diamati atau status kesehatannya tidak dapat dipastikan.

Jangan menunggu sampai muncul takut air, sulit menelan, air liur berlebihan, kebingungan, atau kejang. Pada tahap tersebut, penyakit sudah memasuki fase yang sangat serius.

Jika Anda atau anggota keluarga mengalami gigitan anjing, kucing, kera, atau hewan lain yang berpotensi menularkan rabies, segera lakukan pertolongan pertama dengan mencuci luka dan lanjutkan pemeriksaan ke IHC Rumah Sakit Elizabeth Situbondo.

Jangan menunda pemeriksaan hanya karena luka terlihat kecil. Semakin cepat mendapatkan penilaian medis setelah pajanan, semakin cepat pula langkah pencegahan dapat diberikan bila memang diperlukan.

 

---------------------------------------------------------------------------------------

Referensi

  1. World Health Organization (WHO). (2024). Rabies – Fact Sheet. WHO.
  2. World Health Organization (WHO). (2024). Human rabies prevention and management. WHO.
  3. World Health Organization (WHO). (2024). Animal Bites – Fact Sheet. WHO.
  4. World Health Organization (WHO). (2025). Routine health information system and health facility data for neglected tropical diseases: Rabies.
  5. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2025–2026). Rabies Post-exposure Prophylaxis Guidance dan Clinical Features of Rabies.
  6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/508/2025 tentang Kewaspadaan terhadap Kasus Rabies.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Tingkatkan Kewaspadaan! Kemenkes Imbau Penguatan Pencegahan Rabies di Masyarakat dan Fasilitas Kesehatan.