Gigi Anak Berlubang? Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Mencegahnya
Gigi anak berlubang merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang sering terjadi sejak usia dini. Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele hanya karena gigi yang terkena adalah gigi susu. Jika tidak ditangani, karies dapat menyebabkan nyeri, kesulitan makan dan tidur, infeksi, hingga mengganggu aktivitas dan kualitas hidup anak.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi karies pada anak usia 5–9 tahun mencapai 84,8%. Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar anak pada kelompok usia tersebut mengalami masalah gigi berlubang.
Lalu, apa sebenarnya penyebab gigi berlubang pada anak? Bagaimana mengenali gejalanya dan apa yang dapat dilakukan orang tua untuk mencegahnya? Simak penjelasan berikut.
Apa Itu Gigi Anak Berlubang?
Gigi berlubang atau karies gigi adalah kerusakan pada jaringan keras gigi yang terjadi secara bertahap. Prosesnya dimulai ketika plak atau lapisan bakteri menempel pada permukaan gigi. Bakteri kemudian memetabolisme gula dari makanan dan minuman sehingga menghasilkan asam yang dapat merusak mineral gigi.
Jika proses tersebut berlangsung terus-menerus tanpa pembersihan dan perlindungan yang cukup, permukaan gigi dapat mengalami demineralisasi dan akhirnya terbentuk lubang. WHO menjelaskan bahwa konsumsi gula bebas yang tinggi, paparan fluoride yang tidak memadai, serta kurangnya pembersihan plak merupakan faktor penting dalam terjadinya karies.
Karies dapat terjadi pada gigi susu maupun gigi permanen. Bahkan, proses karies dapat dimulai sejak gigi pertama anak tumbuh.
Penyebab Gigi Anak Berlubang
Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko gigi anak berlubang, antara lain:
1. Terlalu sering mengonsumsi makanan dan minuman manis
Permen, cokelat, biskuit manis, kue, minuman berpemanis, dan makanan ringan lainnya mengandung gula yang dapat dimanfaatkan bakteri di dalam plak untuk menghasilkan asam.
Yang perlu diperhatikan bukan hanya jumlah gula, tetapi juga seberapa sering anak mengonsumsinya. Paparan gula yang berulang membuat gigi lebih sering terkena kondisi asam sehingga meningkatkan risiko karies.
WHO merekomendasikan pembatasan konsumsi gula bebas karena gula merupakan salah satu faktor risiko utama karies gigi.
2. Tidak menyikat gigi dengan benar
Anak-anak masih membutuhkan pendampingan orang tua dalam menjaga kebersihan gigi. Kemampuan menyikat gigi secara efektif berkembang seiring usia.
Plak yang tidak dibersihkan dapat menumpuk pada permukaan gigi, terutama di sela-sela gigi dan area geraham yang memiliki lekukan. Kementerian Kesehatan dalam Buku KIA 2024 menganjurkan orang tua mendampingi anak menyikat gigi selama sekitar dua menit hingga anak mampu melakukannya dengan baik.
3. Kebiasaan minum susu menggunakan botol saat tidur
Memberikan susu atau minuman manis menggunakan botol ketika anak tidur dapat meningkatkan risiko karies, terutama apabila cairan manis terus berkontak dengan gigi dalam waktu lama.
Kementerian Kesehatan juga mengingatkan agar anak tidak dibiasakan minum susu menggunakan botol sambil tiduran sebagai salah satu upaya mengurangi risiko gigi berlubang.
4. Kurangnya paparan fluoride
Fluoride membantu memperkuat struktur gigi dan meningkatkan ketahanan gigi terhadap serangan asam. Karena itu, penggunaan pasta gigi berfluoride merupakan bagian penting dari pencegahan karies.
WHO merekomendasikan menyikat gigi dua kali sehari menggunakan pasta gigi dengan kandungan fluoride 1.000–1.500 ppm.
5. Faktor risiko individual
Tidak semua anak memiliki tingkat risiko karies yang sama. Kondisi gigi, kebiasaan makan, kebersihan mulut, paparan fluoride, kondisi medis tertentu, serta faktor sosial dan perilaku dapat memengaruhi risiko.
American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD) merekomendasikan penilaian risiko karies berdasarkan faktor sosial/perilaku/medis, kondisi klinis, faktor perlindungan, dan tanda penyakit.
Apa Saja Gejala Gigi Berlubang pada Anak?
Pada tahap awal, karies dapat tidak menimbulkan rasa sakit sehingga orang tua mungkin tidak menyadarinya. Seiring kerusakan bertambah dalam, gejala dapat menjadi lebih jelas.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- Muncul bercak putih pada permukaan gigi.
- Perubahan warna menjadi kuning, cokelat, atau hitam.
- Terlihat lubang pada gigi.
- Anak mengeluh sakit gigi.
- Anak merasa ngilu ketika mengonsumsi makanan atau minuman manis, dingin, atau panas.
- Anak menghindari mengunyah menggunakan sisi gigi tertentu.
- Bau mulut.
- Gusi di sekitar gigi dapat tampak bengkak atau kemerahan.
- Pada kondisi yang lebih berat, dapat terjadi pembengkakan pada wajah atau sekitar rahang.
Kementerian Kesehatan juga mencatat bercak atau perubahan warna gigi, lubang, nyeri saat mengunyah atau mengonsumsi makanan/minuman tertentu, bau mulut, serta pembengkakan gusi sebagai tanda yang dapat ditemukan pada karies anak.
Penting: gigi anak berlubang tidak selalu terasa sakit. Karena itu, pemeriksaan gigi secara berkala tetap diperlukan meskipun anak tidak mengeluhkan apa pun.
Apakah Gigi Susu Berlubang Harus Dirawat?
Pertanyaan ini sering muncul pada orang tua: “Bukankah gigi susu nantinya akan tanggal sendiri?”
Jawabannya, gigi susu tetap perlu dirawat.
Gigi susu membantu anak mengunyah makanan, berbicara, dan mempertahankan ruang bagi gigi permanen yang akan tumbuh. Karies yang tidak ditangani dapat menyebabkan rasa sakit, infeksi, gangguan makan, dan masalah lainnya.
AAPD menekankan pentingnya intervensi dini pada early childhood caries (ECC) untuk menghentikan atau memperlambat perkembangan penyakit. Penanganannya dapat meliputi pencegahan, pemberian fluoride, konseling pola makan, sealant, perawatan minimal invasif, hingga perawatan restoratif sesuai kondisi anak.
Oleh karena itu, keputusan apakah gigi susu berlubang cukup dipantau, perlu ditambal, mendapat perawatan pulpa, atau memerlukan tindakan lain harus ditentukan berdasarkan pemeriksaan dokter gigi.
Cara Mengatasi Gigi Anak Berlubang
Penanganan gigi anak berlubang bergantung pada tingkat keparahan karies, usia anak, kondisi gigi, gejala, serta kondisi jaringan di sekitar gigi.
1. Pemeriksaan oleh dokter gigi
Dokter gigi akan memeriksa kondisi gigi dan menentukan tingkat kerusakannya. Pada kasus tertentu, pemeriksaan penunjang seperti radiografi dapat diperlukan untuk mengetahui kedalaman karies.
2. Perawatan fluoride atau pencegahan
Pada lesi awal atau anak dengan risiko karies tinggi, dokter dapat merekomendasikan tindakan pencegahan tertentu, termasuk penggunaan fluoride secara profesional sesuai kebutuhan.
3. Penambalan gigi
Jika kerusakan sudah membentuk kavitas tetapi gigi masih dapat dipertahankan, dokter gigi dapat melakukan perawatan restoratif atau penambalan.
4. Perawatan gigi dengan kerusakan lebih dalam
Karies yang sudah mencapai jaringan pulpa membutuhkan penilaian dan penanganan lebih lanjut. Pedoman AAPD tahun 2024 mengenai vital pulp therapy pada gigi sulung mendukung pendekatan berbasis kondisi pulpa dan kedalaman karies. Pada kasus tertentu, perawatan pulpa dapat dipertimbangkan untuk mempertahankan gigi.
5. Pencabutan pada kondisi tertentu
Pencabutan bukan otomatis menjadi pilihan setiap kali gigi susu berlubang. Tindakan tersebut dipertimbangkan apabila gigi sudah tidak dapat dipertahankan atau terdapat kondisi klinis tertentu. Keputusan harus dibuat oleh dokter gigi setelah pemeriksaan.
Cara Mencegah Gigi Anak Berlubang
Pencegahan merupakan langkah penting karena sebagian besar masalah karies dapat dicegah.
1. Biasakan menyikat gigi dua kali sehari
Ajarkan anak menyikat gigi pada pagi hari dan terutama sebelum tidur menggunakan pasta gigi berfluoride. Orang tua sebaiknya mendampingi dan membantu anak sampai ia mampu menyikat gigi secara efektif.
WHO merekomendasikan menyikat gigi dua kali sehari dengan pasta gigi yang mengandung fluoride 1.000–1.500 ppm.
2. Batasi makanan dan minuman manis
Kurangi frekuensi konsumsi permen, cokelat, biskuit manis, minuman berpemanis, dan makanan tinggi gula lainnya. Biasakan air putih sebagai pilihan minuman utama.
WHO juga menyarankan anak di bawah usia dua tahun tidak mengonsumsi minuman berpemanis.
3. Hindari kebiasaan tidur sambil minum dari botol
Terutama pada balita, hindari membiarkan anak tertidur dengan botol yang berisi susu atau minuman manis.
4. Ajarkan kebiasaan menjaga kebersihan gigi sejak dini
Jadikan menyikat gigi sebagai rutinitas harian. Orang tua dapat memberikan contoh secara langsung agar anak lebih mudah mengikuti.
5. Lakukan pemeriksaan gigi secara berkala
Jangan menunggu sampai anak mengalami sakit gigi. Pemeriksaan rutin memungkinkan dokter gigi menemukan masalah sejak tahap awal dan menilai risiko karies anak.
AAPD merekomendasikan pendekatan berbasis risiko sehingga frekuensi pemeriksaan dan intervensi dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak.
Kapan Anak Harus Segera Dibawa ke Dokter Gigi?
Segera konsultasikan anak ke dokter gigi apabila terdapat:
- Gigi berlubang atau patah.
- Nyeri gigi yang berulang atau menetap.
- Anak sulit makan atau tidur karena sakit gigi.
- Gusi bengkak.
- Muncul benjolan atau nanah di sekitar gigi.
- Wajah atau rahang mengalami pembengkakan.
- Anak mengalami demam yang disertai keluhan gigi atau pembengkakan.
Pembengkakan wajah, kesulitan membuka mulut, kesulitan menelan, atau kesulitan bernapas merupakan kondisi yang membutuhkan penanganan medis segera.
Jika anak sudah menunjukkan tanda gigi berlubang pada anak, jangan menunggu sampai sakit menjadi berat. Pemeriksaan lebih awal membantu dokter gigi menentukan penanganan yang sesuai dan membantu menjaga kesehatan gigi anak hingga masa pertumbuhan berikutnya.
Ayah dan Bunda tidak perlu menunggu sampai anak mengeluhkan sakit gigi. Jika menemukan perubahan warna, lubang pada gigi, nyeri, atau tanda lain yang mengarah pada karies, segera konsultasikan kondisi gigi anak kepada dokter spesialis gigi anak di IHC Rumah Sakit Elizabeth Situbondo.
---------------------------------------------------------------------------------------
Referensi
- World Health Organization (WHO). (2025). Oral Health. WHO, 17 March 2025.
- World Health Organization (WHO). (2025). Sugars and Dental Caries. WHO, 14 August 2025.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/15/2025 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Karies Gigi.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) 2024.
- American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD). (2024). Use of Vital Pulp Therapies in Primary Teeth 2024. Pediatric Dentistry, 46(1), 13–26.
- American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD). (2025). Policy on Early Childhood Caries: Unique Challenges and Management Considerations. Reference Manual of Pediatric Dentistry.
- American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD). (2022, current reference manual 2026–2027). Caries-risk Assessment and Management for Infants, Children, and Adolescents.
Catatan: Artikel ini bersifat edukasi kesehatan untuk masyarakat umum dan tidak menggantikan pemeriksaan langsung oleh dokter gigi. Diagnosis dan pilihan perawatan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak.
