ISPA pada Anak: Kenali Gejala, Penyebab, dan Kapan Harus Dibawa ke Dokter

ISPA pada Anak: Kenali Gejala, Penyebab, dan Kapan Harus Dibawa ke Dokter

ISPA pada anak merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup sering dialami, terutama pada bayi dan anak-anak. Keluhannya dapat berupa batuk, pilek, hidung tersumbat, demam, hingga sakit tenggorokan. Pada sebagian besar kasus, ISPA bersifat ringan dan dapat membaik dengan perawatan yang tepat di rumah.

Namun, orang tua tetap perlu waspada. Infeksi saluran pernapasan pada anak terkadang dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, seperti bronkiolitis atau pneumonia. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengenali gejala ISPA pada anak, mengetahui kemungkinan penyebab ISPA pada anak, serta memahami kapan anak perlu mendapatkan pemeriksaan dokter.

Apa Itu ISPA pada Anak?

ISPA adalah singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut, yaitu infeksi yang menyerang saluran pernapasan dan terjadi dalam waktu relatif singkat. Infeksi dapat mengenai saluran pernapasan bagian atas, seperti hidung dan tenggorokan, maupun saluran pernapasan bagian bawah yang melibatkan bronkus dan paru-paru.

ISPA dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, terutama virus. Beberapa virus yang dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan antara lain rhinovirus, influenza, respiratory syncytial virus (RSV), adenovirus, dan virus lainnya.

Anak-anak cukup sering mengalami infeksi saluran pernapasan karena sistem kekebalan tubuh mereka masih berkembang dan mereka lebih sering melakukan kontak dekat dengan anak lain di lingkungan rumah, sekolah, maupun tempat bermain.

Menurut Kementerian Kesehatan RI, anak usia di bawah lima tahun dapat mengalami infeksi virus ringan beberapa kali dalam setahun. Meski demikian, penyakit dengan gejala yang awalnya tampak ringan tetap perlu dipantau karena beberapa infeksi dapat berkembang menjadi penyakit yang lebih berat.[1]

Gejala ISPA pada Anak yang Perlu Dikenali

Gejala ISPA pada anak dapat berbeda-beda tergantung jenis infeksi dan kondisi anak. Beberapa gejala yang paling umum antara lain:

1. Batuk

Batuk merupakan salah satu gejala yang paling sering muncul. Batuk dapat berupa batuk kering maupun berdahak. Pada infeksi virus, batuk dapat bertahan lebih lama dibandingkan demam atau pilek.

2. Pilek dan Hidung Tersumbat

Anak dapat mengalami hidung berair, bersin, atau hidung tersumbat. Kondisi ini dapat membuat anak, terutama bayi, menjadi lebih sulit tidur atau menyusu.

3. Demam

Demam dapat terjadi sebagai respons tubuh terhadap infeksi. Suhu tubuh dan kondisi umum anak perlu dipantau, terutama apabila demam berlangsung terus-menerus atau disertai gejala lain.

4. Sakit Tenggorokan

Anak yang lebih besar biasanya dapat mengeluhkan sakit atau rasa tidak nyaman ketika menelan. Pada anak yang belum dapat berbicara, keluhan dapat terlihat dari anak yang lebih rewel atau menolak makan dan minum.

5. Nafsu Makan atau Minum Menurun

Ketika mengalami ISPA, anak dapat mengalami penurunan nafsu makan. Bayi juga dapat menjadi lebih sulit menyusu karena hidung tersumbat sehingga mengalami kesulitan bernapas saat menyusu.

6. Anak Lebih Rewel atau Lemas

Perubahan perilaku juga perlu diperhatikan. Anak mungkin lebih mudah menangis, kurang aktif bermain, lebih banyak tidur, atau tampak lemas.

7. Napas Berbunyi atau Lebih Cepat

Pada beberapa infeksi, anak dapat mengalami mengi atau suara napas tambahan. Napas yang menjadi lebih cepat atau terlihat lebih berat juga merupakan tanda yang harus diperhatikan.

Gejala seperti batuk, pilek, hidung tersumbat, bersin, sakit tenggorokan, dan demam ringan sering ditemukan pada infeksi saluran pernapasan akibat virus.[2]

Penyebab ISPA pada Anak

Penyebab ISPA pada anak paling sering adalah infeksi virus. Namun, bakteri juga dapat menjadi penyebab pada kondisi tertentu.

Beberapa penyebab yang dapat berhubungan dengan ISPA antara lain:

  • Rhinovirus yang sering menyebabkan selesma atau common cold.
  • Virus influenza yang menyebabkan flu.
  • Respiratory syncytial virus (RSV), terutama pada bayi dan anak kecil.
  • Adenovirus.
  • Virus parainfluenza.
  • Beberapa jenis bakteri yang dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan tertentu.

Selain mikroorganisme penyebab infeksi, lingkungan juga dapat berperan terhadap risiko ISPA. Paparan asap rokok, polusi udara, ventilasi rumah yang buruk, serta kontak dekat dengan orang yang sedang mengalami infeksi pernapasan dapat meningkatkan kemungkinan penularan.

ISPA dapat menular melalui percikan atau partikel pernapasan ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara. Penularan juga dapat terjadi melalui tangan atau permukaan yang terkontaminasi kemudian menyentuh hidung, mulut, atau mata.[3]

Apakah ISPA pada Anak Berbahaya?

Tidak semua ISPA pada anak merupakan kondisi berbahaya. Sebagian besar infeksi saluran pernapasan atas akibat virus dapat membaik dengan sendirinya dengan perawatan suportif dan pemantauan yang baik.

Namun, orang tua perlu memperhatikan kemungkinan terjadinya infeksi saluran pernapasan bawah, termasuk pneumonia.

Pneumonia merupakan infeksi pada paru-paru yang dapat disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, maupun mikroorganisme lainnya. Pada anak, pneumonia dapat ditandai dengan batuk, kesulitan bernapas, dan pada kondisi berat dapat terlihat adanya tarikan dinding dada ke dalam saat bernapas.[4]

Risiko penyakit berat lebih perlu diperhatikan pada bayi, anak usia sangat muda, anak dengan status gizi kurang, anak dengan penyakit tertentu, atau anak yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang terganggu.

Cara Mengobati ISPA pada Anak

Cara mengobati ISPA pada anak bergantung pada penyebab dan tingkat keparahan penyakit. Untuk ISPA ringan yang kemungkinan besar disebabkan oleh virus, pengobatan umumnya berfokus pada membantu meredakan gejala dan menjaga kondisi anak.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan di rumah antara lain:

1. Pastikan Anak Mendapatkan Cairan yang Cukup

Berikan ASI atau cairan sesuai usia anak secara lebih sering. Asupan cairan membantu mencegah dehidrasi, terutama ketika anak mengalami demam atau kurang nafsu makan.

2. Biarkan Anak Beristirahat

Istirahat yang cukup membantu tubuh menjalankan proses pemulihan. Kurangi aktivitas yang terlalu berat selama anak masih mengalami gejala.

3. Bersihkan Hidung yang Tersumbat

Pada bayi, hidung tersumbat dapat mengganggu proses menyusu dan tidur. Membersihkan hidung dengan cara yang aman dapat membantu anak bernapas lebih nyaman.

4. Berikan Makanan Sesuai Kemampuan Anak

Tidak perlu memaksa anak makan dalam jumlah banyak. Berikan makanan bergizi dalam porsi kecil tetapi lebih sering apabila anak mengalami penurunan nafsu makan.

5. Obat Hanya Sesuai Anjuran

Obat penurun demam atau obat lain sebaiknya diberikan sesuai usia, berat badan, aturan pakai, dan anjuran tenaga kesehatan.

Orang tua juga perlu berhati-hati dalam memberikan obat batuk dan pilek yang dijual bebas kepada anak. Tidak semua obat aman digunakan pada semua kelompok usia.

6. Jangan Memberikan Antibiotik Sembarangan

Antibiotik tidak dapat membunuh virus. Karena sebagian besar ISPA ringan disebabkan oleh virus, antibiotik tidak selalu diperlukan.

Penggunaan antibiotik tanpa indikasi dapat menimbulkan efek samping dan berkontribusi terhadap masalah resistensi antimikroba. Antibiotik sebaiknya digunakan hanya berdasarkan pemeriksaan dan rekomendasi dokter.[5][6]

Kapan Anak dengan ISPA Harus Dibawa ke Dokter?

Orang tua sebaiknya tidak hanya berpatokan pada ada atau tidaknya demam. Kondisi umum dan pola pernapasan anak juga sangat penting.

Segera konsultasikan anak kepada dokter apabila:

  • Batuk atau demam tidak membaik atau justru semakin berat.
  • Anak tampak sangat lemas atau sulit dibangunkan.
  • Anak mengalami kesulitan bernapas atau sesak.
  • Napas anak tampak jauh lebih cepat dari biasanya.
  • Dada tampak tertarik ke dalam ketika anak bernapas.
  • Anak mengalami napas berbunyi atau mengi yang semakin berat.
  • Anak sulit makan atau minum.
  • Anak mengalami tanda-tanda dehidrasi, seperti jarang buang air kecil.
  • Bibir atau kulit tampak kebiruan.
  • Anak mengalami kejang.
  • Anak tampak sangat sakit atau terjadi perubahan kesadaran.

Pada anak dengan demam, tanda seperti warna kulit atau bibir kebiruan, tidak responsif, sulit dibangunkan, suara merintih/grunting, napas sangat cepat, dan tarikan dinding dada sedang hingga berat merupakan tanda yang memerlukan penilaian medis segera.[7]

Jika anak tampak mengalami kesulitan bernapas berat, bibir membiru, tidak sadar, atau kondisi memburuk dengan cepat, jangan menunda untuk mencari pertolongan medis.

Cara Mencegah ISPA pada Anak

Pencegahan merupakan bagian penting untuk mengurangi risiko ISPA pada anak.

Beberapa kebiasaan yang dapat dilakukan orang tua antara lain:

  1. Biasakan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan dan setelah melakukan aktivitas.
  2. Ajarkan etika batuk dan bersin, seperti menutup mulut dan hidung menggunakan tisu atau siku bagian dalam.
  3. Hindari paparan asap rokok di rumah maupun lingkungan sekitar anak.
  4. Pastikan ventilasi rumah baik agar sirkulasi udara berjalan dengan baik.
  5. Hindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit jika memungkinkan.
  6. Jangan berbagi alat makan dan minum dengan orang yang sedang mengalami infeksi.
  7. Lengkapi imunisasi anak sesuai jadwal yang direkomendasikan tenaga kesehatan.
  8. Berikan makanan bergizi seimbang sesuai kebutuhan dan usia anak.
  9. Pastikan anak mendapatkan istirahat yang cukup.
  10. Ajarkan anak menjaga kebersihan tangan dan tidak menyentuh mata, hidung, atau mulut dengan tangan yang belum dicuci.

Imunisasi juga memiliki peran penting dalam mencegah beberapa penyakit infeksi saluran pernapasan dan komplikasinya. Vaksinasi dapat membantu melindungi anak dari penyakit tertentu yang berpotensi menyebabkan pneumonia.[8]

ISPA pada Anak: Jangan Hanya Fokus pada Batuk dan Pilek

Batuk dan pilek memang sering kali merupakan gejala ISPA yang ringan. Namun, orang tua tetap perlu melihat kondisi anak secara keseluruhan.

Anak yang masih aktif, mau makan dan minum, serta bernapas dengan normal umumnya dapat dipantau di rumah sesuai anjuran tenaga kesehatan. Sebaliknya, perubahan perilaku, penurunan kesadaran, kesulitan bernapas, tidak mau minum, atau munculnya tanda kekurangan oksigen merupakan kondisi yang perlu segera mendapatkan pemeriksaan.

Pada bayi dan anak kecil, kondisi dapat berubah lebih cepat. Karena itu, bila orang tua merasa kondisi anak tidak seperti biasanya atau gejalanya semakin berat, pemeriksaan dokter dapat membantu menentukan apakah anak cukup mendapatkan perawatan di rumah atau membutuhkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.

Apabila si kecil mengalami gejala ISPA yang menetap, berulang, semakin berat, atau disertai tanda bahaya, segera konsultasikan kondisi anak kepada dokter di IHC Rumah Sakit Elizabeth untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.


---------------------------------------------------------------------------------------

Referensi

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tips Agar Anak Tidak Sakit. 2024.
  2. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). About Common Cold. Updated 2026.
  3. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan RI. Jangan Anggap Sepele, Kenali Gejala dan Cara Mencegah ISPA.
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pneumonia Terus Ancam Anak-anak. 2024.
  5. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Manage Common Cold. Updated 2026.
  6. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Healthy Habits: Antibiotic Do's and Don'ts. 2025.
  7. National Institute for Health and Care Excellence (NICE). Fever in under 5s: assessment and initial management (NG143). Updated guidance.
  8. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Imunisasi PCV untuk Melindungi Anak dari Bahaya Pneumonia.