Cacar Air: Kenali Gejala, Penyebab, Cara Penularan, dan Cara Mengobatinya

Cacar Air: Kenali Gejala, Penyebab, Cara Penularan, dan Cara Mengobatinya

Cacar air merupakan salah satu penyakit infeksi yang cukup sering terjadi, terutama pada anak-anak. Penyakit ini ditandai dengan munculnya ruam atau bintil berisi cairan yang terasa gatal. Meskipun pada sebagian besar orang sehat cacar air dapat sembuh dengan sendirinya, penyakit ini tetap perlu diperhatikan karena dapat menimbulkan komplikasi, terutama pada bayi, orang dewasa, ibu hamil, dan orang dengan daya tahan tubuh yang lemah.

Memahami gejala cacar air, penyebab, cara penularan, serta cara mengobati cacar air penting agar penyakit dapat ditangani dengan tepat dan penularannya dapat dicegah.

Apa Itu Cacar Air?

Cacar air atau varicella adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh varicella-zoster virus (VZV). Virus ini termasuk kelompok herpesvirus. Cacar air sangat mudah menular, terutama kepada orang yang belum pernah terkena cacar air atau belum memiliki kekebalan terhadap virus tersebut.

Infeksi biasanya menyebabkan ruam khas yang berkembang dari bintik kemerahan menjadi benjolan kecil, kemudian berubah menjadi lepuhan berisi cairan dan akhirnya mengering menjadi keropeng.

Pada sebagian besar anak sehat, cacar air berlangsung sekitar 4–7 hari. Namun, tingkat keparahan penyakit dapat berbeda pada setiap orang. Bayi, remaja, orang dewasa, ibu hamil, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit yang lebih berat atau komplikasi.

Apa Penyebab Cacar Air?

Penyebab utama cacar air adalah varicella-zoster virus (VZV). Seseorang yang terinfeksi dapat menularkan virus kepada orang lain sebelum menyadari bahwa dirinya mengalami cacar air.

Setelah seseorang sembuh dari infeksi cacar air, virus tidak sepenuhnya menghilang dari tubuh. Virus dapat tetap berada dalam keadaan tidak aktif di jaringan saraf. Pada kondisi tertentu di kemudian hari, virus dapat kembali aktif dan menyebabkan herpes zoster atau cacar ular.

Karena itu, cacar air dan herpes zoster berhubungan dengan virus yang sama, tetapi merupakan kondisi yang berbeda.

Gejala Cacar Air yang Perlu Dikenali

Mengenali gejala cacar air sejak awal dapat membantu mencegah penularan kepada anggota keluarga, teman, maupun orang lain.

Pada orang dewasa, beberapa gejala awal dapat muncul sekitar 1–2 hari sebelum ruam, seperti:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Tubuh terasa lemas atau tidak enak badan
  • Nafsu makan menurun

Pada anak-anak, ruam kulit sering kali menjadi tanda pertama yang paling mudah dikenali.

Ciri khas ruam cacar air

Ruam cacar air biasanya berkembang secara bertahap:

  1. Muncul bintik kemerahan pada kulit.
  2. Bintik berubah menjadi benjolan kecil.
  3. Benjolan berkembang menjadi lepuhan berisi cairan.
  4. Lepuhan kemudian pecah atau mengering.
  5. Lesi berubah menjadi keropeng.

Salah satu ciri khas cacar air adalah adanya lesi pada tahap perkembangan yang berbeda secara bersamaan. Ruam biasanya pertama kali terlihat di area dada, punggung, atau wajah, kemudian dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya. Lesi juga dapat muncul di dalam mulut, kelopak mata, maupun area genital.

Pada orang yang sudah mendapatkan vaksin, infeksi yang disebut breakthrough varicella dapat berlangsung lebih ringan. Jumlah lesi biasanya lebih sedikit dan demam dapat minimal atau bahkan tidak muncul.

Bagaimana Cara Penularan Cacar Air?

Cacar air merupakan penyakit yang sangat menular. Virus dapat menyebar terutama melalui kontak dekat dengan seseorang yang sedang mengalami cacar air. Penularan juga dapat terjadi melalui udara atau droplet pernapasan serta kontak dengan cairan dari lepuhan kulit.

Seseorang dengan cacar air umumnya sudah dapat menularkan virus sekitar 1–2 hari sebelum ruam muncul. Penularan berlangsung sampai seluruh lesi kulit mengering dan menjadi keropeng.

Inilah alasan mengapa cacar air dapat menyebar dengan cepat di lingkungan keluarga, sekolah, tempat penitipan anak, maupun lingkungan dengan kontak dekat.

Berapa lama cacar air menular?

Secara umum, seseorang masih dianggap menular sampai seluruh lepuhan telah mengering dan menjadi keropeng. Karena itu, penderita sebaiknya menghindari kontak dekat dengan orang lain, terutama dengan bayi, ibu hamil, orang yang belum memiliki kekebalan terhadap cacar air, dan orang dengan sistem imun yang lemah.

Jika terdapat anggota keluarga yang mengalami cacar air, sebaiknya lakukan konsultasi dengan tenaga medis untuk mendapatkan arahan mengenai isolasi dan pencegahan penularan.

Bagaimana Cara Mengobati Cacar Air?

Pada sebagian besar anak sehat, cacar air dapat membaik dengan perawatan suportif. Tujuan pengobatan adalah membantu mengurangi gejala, menjaga kondisi tubuh, serta mencegah komplikasi.

Berikut beberapa langkah cara mengatasi cacar air yang dapat dilakukan:

1. Istirahat yang cukup

Tubuh membutuhkan energi untuk melawan infeksi. Pastikan penderita mendapatkan waktu istirahat yang cukup dan tidak melakukan aktivitas berat selama kondisi belum membaik.

2. Cukupi kebutuhan cairan

Demam dan kondisi tubuh yang kurang fit dapat meningkatkan risiko kekurangan cairan. Pastikan penderita mendapatkan asupan cairan yang cukup. Jika terdapat luka atau lepuhan di dalam mulut yang membuat makan dan minum terasa sakit, konsultasikan dengan dokter.

3. Hindari menggaruk lepuhan

Rasa gatal merupakan salah satu keluhan yang umum pada cacar air. Namun, menggaruk dapat menyebabkan luka dan meningkatkan risiko infeksi bakteri pada kulit.

Menjaga kuku tetap pendek dapat membantu mengurangi risiko luka akibat garukan.

4. Mandi dan menjaga kebersihan kulit

Menjaga kebersihan tubuh tetap penting. Mandi dengan air yang nyaman dan tidak menggosok kulit secara berlebihan dapat membantu menjaga kebersihan kulit.

Untuk membantu meredakan rasa gatal, CDC juga menyebutkan bahwa mandi dengan air sejuk dan penggunaan bahan seperti colloidal oatmeal atau soda kue dalam air mandi dapat membantu sebagian penderita.

5. Gunakan obat sesuai anjuran dokter

Obat yang digunakan untuk cacar air bergantung pada usia, kondisi kesehatan, tingkat keparahan, dan risiko komplikasi.

Pada kelompok tertentu yang memiliki risiko penyakit lebih berat, dokter dapat mempertimbangkan pemberian obat antivirus seperti acyclovir atau valacyclovir. Terapi antivirus memberikan manfaat terbesar apabila diberikan pada waktu yang tepat, sehingga penggunaannya sebaiknya berdasarkan penilaian dokter.

Jangan memberikan obat antivirus, antibiotik, atau obat lainnya kepada penderita tanpa konsultasi terlebih dahulu.

Pada anak yang mengalami cacar air, aspirin tidak boleh digunakan karena berkaitan dengan risiko sindrom Reye, yaitu kondisi serius yang dapat memengaruhi hati dan otak. CDC juga menyarankan kehati-hatian terhadap penggunaan ibuprofen pada cacar air karena terdapat kaitan dengan infeksi kulit bakteri yang serius.

Kapan Penderita Cacar Air Harus ke Dokter?

Meskipun sering kali ringan, cacar air dapat menyebabkan komplikasi. Segera konsultasikan kepada dokter apabila penderita mengalami kondisi seperti:

  • Demam tinggi atau demam berlangsung lebih dari beberapa hari.
  • Kulit menjadi sangat merah, panas, nyeri, atau mengeluarkan nanah.
  • Kesulitan bernapas.
  • Batuk berat.
  • Muntah berulang.
  • Leher terasa kaku.
  • Gangguan kesadaran atau sulit dibangunkan.
  • Kesulitan berjalan.
  • Nyeri perut berat.
  • Ruam disertai perdarahan atau memar.

Perhatian khusus juga diperlukan apabila cacar air dialami oleh bayi, ibu hamil, orang dewasa, atau seseorang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, karena kelompok tersebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi.

Komplikasi yang dapat terjadi antara lain infeksi bakteri pada kulit dan jaringan lunak, pneumonia, gangguan saraf, dehidrasi, hingga komplikasi berat lainnya. Pada orang dewasa, pneumonia merupakan salah satu komplikasi yang perlu diperhatikan.

Apakah Cacar Air Bisa Dicegah?

Salah satu langkah utama untuk mencegah cacar air adalah vaksinasi varisela.

WHO menyatakan bahwa cacar air dapat dicegah melalui imunisasi menggunakan vaksin varisela hidup yang dilemahkan.

CDC juga menyebutkan vaksinasi sebagai cara terbaik untuk melindungi seseorang dari cacar air. Dua dosis vaksin varisela memiliki efektivitas lebih dari 90% dalam mencegah varisela berdasarkan data yang dirujuk CDC.

Selain vaksinasi, pencegahan penularan dapat dilakukan dengan:

  • Menghindari kontak dekat dengan penderita sampai seluruh lepuhan mengering.
  • Tidak berbagi barang pribadi yang berpotensi terkontaminasi cairan lepuhan.
  • Menjaga kebersihan tangan.
  • Menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin.
  • Memastikan anggota keluarga yang belum memiliki kekebalan mendapatkan konsultasi mengenai vaksinasi.

Jika seseorang baru saja berkontak erat dengan penderita cacar air, terutama jika termasuk kelompok berisiko tinggi, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Penanganan setelah pajanan dapat berbeda tergantung kondisi dan status kekebalan seseorang.

Cacar Air pada Anak dan Orang Dewasa, Apakah Sama?

Cacar air memang dapat dialami oleh anak maupun orang dewasa, tetapi tingkat keparahannya dapat berbeda.

Pada anak sehat, penyakit umumnya berlangsung ringan dan dapat sembuh dalam beberapa hari. Sementara itu, orang dewasa memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi seperti pneumonia.

Oleh karena itu, jangan menganggap cacar air sebagai penyakit yang selalu ringan. Jika gejala muncul pada orang dewasa, ibu hamil, bayi, atau seseorang dengan gangguan sistem kekebalan tubuh, pemeriksaan medis menjadi lebih penting.

Jika Anda atau anggota keluarga mengalami gejala yang mengarah pada cacar air, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter di IHC Rumah Sakit Elizabeth Situbondo. Pemeriksaan dokter dapat membantu memastikan diagnosis, menilai tingkat keparahan, serta menentukan cara mengatasi cacar air yang sesuai dengan kondisi pasien.


---------------------------------------------------------------------------------------

Referensi Ilmiah

  1. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). About Chickenpox (Varicella).
  2. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). Chickenpox Symptoms and Complications.
  3. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). Clinical Features of Chickenpox (Varicella).
  4. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). How to Treat Chickenpox.
  5. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). Clinical Guidance for People at Risk for Severe Varicella.
  6. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). Varicella Diagnosis Fact Sheet.
  7. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). Chickenpox Vaccination.
  8. World Health Organization (WHO). (2024/akses 2026). Varicella – Immunization, Vaccines and Biologicals.

National Health and Medical Research Council (NHMRC). (2024). Chickenpox (varicella) fact sheet.