Gula Darah Tinggi: Kenali Gejala, Penyebab, dan Kapan Harus Periksa ke Dokter
Gula Darah Tinggi, Jangan Dianggap Sepele
Gula darah tinggi atau hiperglikemia merupakan kondisi ketika kadar glukosa dalam darah berada di atas batas normal. Kondisi ini paling sering berkaitan dengan diabetes melitus, tetapi gula darah dapat meningkat sementara akibat infeksi, stres fisik, pola makan tertentu, kurang aktivitas fisik, maupun penggunaan obat-obatan tertentu.
Masalahnya, gula darah tinggi tidak selalu menimbulkan keluhan yang jelas. Pada diabetes tipe 2, gejala dapat berkembang perlahan selama bertahun-tahun sehingga seseorang mungkin baru mengetahui kondisinya setelah melakukan pemeriksaan kesehatan atau ketika komplikasi mulai muncul. WHO menegaskan bahwa diagnosis dini penting karena gula darah tinggi yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah, saraf, mata, ginjal, dan jantung. (World Health Organization)
Karena itu, mengenali ciri ciri gula darah tinggi, memahami penyebabnya, dan mengetahui kapan harus memeriksakan diri ke dokter merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan.
Apa Itu Gula Darah Tinggi?
Glukosa merupakan sumber energi utama bagi tubuh. Setelah makanan dicerna, karbohidrat diubah menjadi glukosa yang kemudian masuk ke dalam aliran darah. Hormon insulin membantu glukosa masuk ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi.
Pada diabetes, tubuh tidak menghasilkan insulin yang cukup atau tidak dapat menggunakan insulin secara efektif. Akibatnya, glukosa menumpuk di dalam darah sehingga kadar gula menjadi tinggi. (World Health Organization)
Gula darah tinggi yang berlangsung terus-menerus perlu mendapatkan perhatian karena dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi, termasuk penyakit jantung, stroke, gangguan ginjal, gangguan penglihatan, kerusakan saraf, serta masalah pada kaki.
Berapa kadar gula darah yang dianggap tinggi?
Menurut American Diabetes Association (ADA) Standards of Care in Diabetes 2026, diabetes pada orang dewasa nonhamil dapat ditegakkan berdasarkan salah satu kriteria berikut:
- Gula darah puasa ≥126 mg/dL.
- HbA1c ≥6,5%.
- Gula darah 2 jam setelah tes toleransi glukosa oral 75 gram ≥200 mg/dL.
- Gula darah sewaktu ≥200 mg/dL pada seseorang dengan gejala klasik hiperglikemia atau kondisi krisis hiperglikemia. (Diabetes Journals)
Namun, satu kali hasil pemeriksaan yang tinggi tidak selalu berarti seseorang langsung dapat dinyatakan menderita diabetes. Jika tidak terdapat hiperglikemia yang jelas, diagnosis umumnya perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan ulang atau kombinasi pemeriksaan yang sesuai. (Diabetes Journals)
Gejala Gula Darah Tinggi yang Perlu Dikenali
Tidak semua orang mengalami gejala yang sama. Bahkan, seseorang dapat memiliki gula darah tinggi tanpa menyadarinya.
Beberapa gejala gula darah tinggi yang umum antara lain:
1. Sering merasa haus
Rasa haus berlebihan atau terus-menerus ingin minum dapat terjadi ketika kadar gula darah meningkat. Tubuh berusaha membuang kelebihan glukosa melalui urine sehingga cairan tubuh ikut banyak keluar.
2. Sering buang air kecil
Frekuensi buang air kecil yang meningkat, terutama pada malam hari, dapat menjadi salah satu tanda gula darah tinggi. Kondisi ini terjadi karena ginjal berusaha membuang kelebihan glukosa melalui urine.
3. Mudah lelah
Glukosa memang tersedia dalam darah, tetapi ketika insulin tidak bekerja dengan baik, glukosa tidak dapat dimanfaatkan sel secara optimal. Akibatnya, seseorang dapat merasa lemas atau mudah lelah.
4. Penglihatan menjadi kabur
Perubahan kadar glukosa dapat memengaruhi keseimbangan cairan dan struktur lensa mata sehingga penglihatan menjadi kabur. Jika kadar gula tetap tinggi dalam jangka panjang, pembuluh darah retina juga dapat mengalami kerusakan. (World Health Organization)
5. Berat badan turun tanpa sebab yang jelas
Penurunan berat badan yang tidak direncanakan, terutama jika disertai sering haus dan sering buang air kecil, perlu diperhatikan. Kondisi ini dapat terjadi ketika tubuh tidak mampu menggunakan glukosa secara efektif sebagai sumber energi.
6. Luka sulit sembuh
Gula darah yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat mengganggu fungsi pembuluh darah dan saraf sehingga proses penyembuhan luka dapat menjadi lebih lambat.
7. Kesemutan atau mati rasa
Kerusakan saraf akibat diabetes dapat menimbulkan kesemutan, rasa terbakar, atau mati rasa, terutama pada kaki dan tangan.
WHO menyebutkan bahwa gejala diabetes dapat berupa rasa haus berlebihan, lebih sering buang air kecil, pandangan kabur, mudah lelah, serta penurunan berat badan yang tidak disengaja. Pada diabetes tipe 2, gejalanya sering kali ringan dan berkembang perlahan. (World Health Organization)
Penyebab Gula Darah Tinggi
Penyebab gula darah tinggi tidak selalu hanya karena terlalu banyak makan makanan manis. Beberapa faktor dapat berperan, antara lain:
Diabetes melitus
Diabetes tipe 1 terjadi ketika tubuh mengalami kekurangan insulin. Sementara itu, diabetes tipe 2 terutama berkaitan dengan resistensi insulin dan gangguan produksi insulin. Diabetes tipe 2 merupakan bentuk diabetes yang paling umum dan berkaitan dengan berbagai faktor seperti berat badan berlebih, kurang aktivitas fisik, dan faktor genetik. (World Health Organization)
Pola makan tidak sehat
Konsumsi makanan dan minuman tinggi gula tambahan, karbohidrat olahan, serta kalori berlebihan dapat menyulitkan pengendalian kadar gula darah, terutama pada orang yang memiliki resistensi insulin.
Kurang aktivitas fisik
Aktivitas fisik membantu tubuh menggunakan glukosa sebagai energi. Kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko resistensi insulin dan diabetes tipe 2.
Kelebihan berat badan
Berat badan berlebih, terutama penumpukan lemak di sekitar perut, berkaitan dengan peningkatan risiko resistensi insulin.
Stres dan penyakit akut
Infeksi, demam, cedera, operasi, maupun stres fisik dapat menyebabkan peningkatan hormon tertentu yang membuat kadar gula darah meningkat.
Obat-obatan tertentu
Beberapa obat, terutama kortikosteroid, dapat meningkatkan kadar gula darah. Karena itu, orang yang menggunakan obat tertentu dalam jangka waktu lama perlu mendiskusikan efeknya dengan dokter.
Faktor keturunan
Riwayat keluarga dengan diabetes juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan kadar gula darah.
Cara Menurunkan Gula Darah Tinggi
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan gula darah tinggi, jangan langsung mencoba menurunkannya dengan cara ekstrem. Penanganan harus disesuaikan dengan penyebab dan kondisi masing-masing orang.
Berikut beberapa langkah yang dapat membantu mengendalikan gula darah:
1. Perbaiki pola makan
Utamakan makanan bergizi seimbang dengan memperhatikan porsi karbohidrat, protein, sayuran, dan sumber serat. Batasi minuman manis, makanan tinggi gula tambahan, serta makanan ultra-proses.
Bukan berarti penderita gula darah tinggi harus sama sekali tidak mengonsumsi karbohidrat. Yang lebih penting adalah memilih sumber karbohidrat dengan lebih baik dan mengatur porsinya.
2. Tingkatkan aktivitas fisik
Aktivitas fisik secara teratur dapat membantu tubuh menggunakan glukosa dengan lebih efektif. WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan setidaknya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang per minggu untuk membantu mencegah atau menunda diabetes tipe 2. (World Health Organization)
Bagi orang yang sudah mengalami diabetes atau memiliki kondisi medis tertentu, jenis dan intensitas olahraga sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan.
3. Menjaga berat badan
Jika mengalami kelebihan berat badan, penurunan berat badan secara bertahap dan sehat dapat membantu memperbaiki sensitivitas insulin pada sebagian orang.
4. Minum obat sesuai anjuran dokter
Jika sudah didiagnosis diabetes, jangan menghentikan, mengganti, atau menambah obat sendiri hanya karena kadar gula sedang membaik atau memburuk.
Pengobatan diabetes dapat melibatkan obat minum, obat suntik, atau insulin, tergantung jenis diabetes dan kondisi pasien.
5. Melakukan pemeriksaan gula darah secara berkala
Pemantauan kadar gula membantu dokter menilai efektivitas terapi. Pada kondisi tertentu, pemeriksaan HbA1c juga dapat digunakan untuk memberikan gambaran pengendalian gula darah dalam beberapa bulan terakhir.
ADA 2026 menyebutkan bahwa target HbA1c perlu dibuat secara individual. Untuk banyak orang dewasa nonhamil dengan diabetes, target HbA1c <7% dapat menjadi sasaran umum, tetapi target tersebut dapat berbeda berdasarkan usia, kondisi kesehatan, risiko hipoglikemia, dan faktor lainnya. (Diabetes Journals)
Kapan Harus Periksa ke Dokter?
Jangan menunggu sampai muncul komplikasi untuk memeriksa gula darah.
Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter apabila mengalami beberapa ciri ciri gula darah tinggi, terutama:
- Sering haus dan sering buang air kecil.
- Mudah lelah tanpa penyebab yang jelas.
- Berat badan turun tanpa direncanakan.
- Penglihatan sering kabur.
- Luka sulit sembuh atau sering mengalami infeksi.
- Sering kesemutan atau mati rasa pada tangan dan kaki.
- Memiliki berat badan berlebih atau obesitas.
- Memiliki orang tua atau saudara kandung dengan diabetes.
- Pernah mengalami diabetes saat kehamilan.
- Pernah mendapatkan hasil pemeriksaan gula darah tinggi.
ADA 2026 merekomendasikan skrining diabetes pada orang dewasa mulai usia 35 tahun, sementara pemeriksaan dapat dilakukan lebih dini pada orang yang memiliki faktor risiko tertentu. Orang dengan prediabetes juga dianjurkan menjalani pemeriksaan secara berkala. (Diabetes Journals)
Waspadai Gula Darah Sangat Tinggi
Gula darah yang sangat tinggi dapat berkembang menjadi kondisi gawat seperti diabetic ketoacidosis (DKA) atau hyperosmolar hyperglycemic state (HHS).
Segera mencari pertolongan medis apabila gula darah tinggi disertai kondisi seperti:
- Mual dan muntah berulang.
- Nyeri perut.
- Napas cepat atau sulit bernapas.
- Sangat lemas.
- Mengantuk berat atau sulit dibangunkan.
- Kebingungan atau perubahan kesadaran.
- Dehidrasi berat.
Kondisi tersebut membutuhkan evaluasi medis segera dan tidak sebaiknya ditangani hanya dengan mengandalkan pengobatan rumahan.
Mengapa Gula Darah Tinggi Harus Ditangani?
Gula darah tinggi yang berlangsung lama bukan sekadar angka pada hasil pemeriksaan laboratorium. Hiperglikemia kronis dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah dan saraf.
Komplikasi yang dapat terjadi antara lain:
- Penyakit jantung dan pembuluh darah.
- Stroke.
- Penyakit ginjal kronis.
- Gangguan saraf atau neuropati.
- Retinopati diabetik dan gangguan penglihatan.
- Luka kaki diabetik.
- Peningkatan risiko amputasi pada kondisi tertentu.
WHO menyebutkan bahwa diabetes dapat menyebabkan kebutaan, gagal ginjal, serangan jantung, stroke, serta amputasi ekstremitas bawah. Deteksi dan pengelolaan lebih dini dapat membantu mencegah atau menunda komplikasi tersebut. (World Health Organization)
Pemeriksaan Apa yang Dapat Dilakukan?
Untuk mengetahui apakah seseorang mengalami diabetes atau gangguan gula darah, dokter dapat mempertimbangkan beberapa pemeriksaan, seperti:
Gula darah puasa
Mengukur kadar glukosa setelah seseorang tidak mendapatkan asupan kalori selama setidaknya 8 jam.
Gula darah sewaktu
Dapat dilakukan kapan saja tanpa harus berpuasa. Pada kondisi dengan gejala klasik hiperglikemia, hasil ≥200 mg/dL dapat menjadi bagian dari kriteria diagnosis diabetes. (Diabetes Journals)
HbA1c
Menggambarkan rata-rata kadar gula darah dalam periode beberapa bulan dan dapat digunakan untuk skrining maupun diagnosis diabetes.
Tes toleransi glukosa oral (TTGO/OGTT)
Digunakan untuk menilai respons tubuh terhadap glukosa dan dapat membantu diagnosis pada kondisi tertentu.
Dokter akan menentukan pemeriksaan yang paling sesuai berdasarkan usia, gejala, faktor risiko, riwayat kesehatan, serta hasil pemeriksaan sebelumnya.
Jangan Menunggu Gejala untuk Memeriksa Gula Darah
Salah satu alasan diabetes sering terlambat diketahui adalah karena gejalanya dapat ringan atau bahkan tidak terasa. Seseorang dapat merasa sehat tetapi ternyata memiliki kadar gula darah yang sudah tinggi.
Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi bagian penting dari pencegahan. Deteksi lebih awal memberikan kesempatan untuk memperbaiki pola makan, meningkatkan aktivitas fisik, mengendalikan berat badan, dan mendapatkan terapi medis apabila memang diperlukan.
IHC Rumah Sakit Elizabeth Situbondo dapat menjadi pilihan untuk mendapatkan pemeriksaan dan konsultasi kesehatan secara tepat. Jika Anda memiliki faktor risiko diabetes, mengalami gejala gula darah tinggi, atau mendapatkan hasil pemeriksaan gula darah yang tidak normal, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam kami.
Jika memiliki faktor risiko atau hasil pemeriksaan gula darah yang tinggi, lakukan evaluasi medis. Semakin dini gula darah tinggi diketahui dan dikendalikan, semakin besar peluang untuk mencegah komplikasi jangka panjang.
---------------------------------------------------------------------------------------
Referensi:
- American Diabetes Association. (2026). Standards of Care in Diabetes—2026: Diagnosis and Classification of Diabetes. Diabetes Care. (Diabetes Journals)
- American Diabetes Association. (2026). Standards of Care in Diabetes—2026: Glycemic Goals, Hypoglycemia, and Hyperglycemic Crises. Diabetes Care. (Diabetes Journals)
- American Diabetes Association. (2026). Standards of Care in Diabetes—2026: Comprehensive Medical Evaluation and Assessment of Comorbidities. Diabetes Care. (Diabetes Journals)
- World Health Organization. (2024). Diabetes – Fact Sheet. WHO. (World Health Organization)
- World Health Organization. (2026). Prevention and control of diabetes mellitus: Lessons for service delivery in the WHO South-East Asia Region. WHO. (World Health Organization)
Catatan: Artikel ini bersifat edukasi kesehatan dan tidak menggantikan pemeriksaan serta diagnosis langsung oleh dokter.
HUBUNGI KAMI