Hipertensi Sering Tidak Bergejala: Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Mencegahnya
Hipertensi Sering Tidak Bergejala, Benarkah?
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius. Kondisi ini sering disebut sebagai silent killer karena seseorang dapat mengalami tekanan darah tinggi selama bertahun-tahun tanpa merasakan keluhan yang berarti.
Menurut World Health Organization (WHO), diperkirakan terdapat 1,4 miliar orang dewasa usia 30–79 tahun di dunia yang mengalami hipertensi pada 2024. Bahkan, sekitar 44% penderita hipertensi tidak mengetahui bahwa dirinya memiliki kondisi tersebut. (World Health Organization)
Inilah alasan mengapa pemeriksaan tekanan darah secara rutin penting dilakukan, termasuk bagi orang yang merasa sehat dan tidak memiliki gejala.
Hipertensi yang tidak dikendalikan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius, seperti penyakit jantung, stroke, dan gangguan ginjal. (World Health Organization)
Bagi masyarakat di Situbondo, kesadaran untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala merupakan langkah sederhana yang dapat membantu mendeteksi hipertensi lebih dini.
Apa Itu Hipertensi?
Tekanan darah merupakan tekanan yang diberikan aliran darah terhadap dinding pembuluh darah. Hasil pengukuran tekanan darah ditulis dalam dua angka, yaitu tekanan sistolik dan diastolik.
Secara umum, WHO dan pedoman European Society of Cardiology (ESC) 2024 menggunakan 140/90 mmHg atau lebih sebagai batas hipertensi pada pengukuran di fasilitas kesehatan, dengan diagnosis yang perlu dikonfirmasi melalui pengukuran pada kesempatan yang sesuai. (World Health Organization)
Sebagai contoh, hasil pengukuran 150/95 mmHg menunjukkan tekanan darah yang berada di atas batas tersebut.
Namun, satu kali hasil pengukuran yang tinggi belum tentu berarti seseorang pasti mengalami hipertensi. Dokter dapat mempertimbangkan pengukuran berulang, pengukuran di rumah, kondisi pasien, serta faktor risiko lainnya.
Karena itu, jangan langsung menyimpulkan kondisi kesehatan hanya berdasarkan satu kali pemeriksaan.
Mengapa Hipertensi Sering Tidak Bergejala?
Salah satu hal yang membuat hipertensi berbahaya adalah banyak penderita tidak merasakan gejala hipertensi yang khas.
Seseorang dapat tetap bekerja, beraktivitas, berolahraga, dan merasa sehat meskipun tekanan darahnya tinggi. Kondisi tersebut dapat berlangsung dalam waktu lama.
WHO menyebutkan bahwa kebanyakan orang dengan hipertensi tidak merasakan gejala. Cara terbaik untuk mengetahui apakah seseorang mengalami tekanan darah tinggi adalah dengan melakukan pemeriksaan tekanan darah. (World Health Organization)
Karena itu, tidak adanya keluhan bukan berarti tekanan darah pasti normal.
Pemeriksaan tekanan darah menjadi semakin penting apabila seseorang memiliki faktor risiko seperti usia yang bertambah, berat badan berlebih, kurang aktivitas fisik, pola makan tinggi garam, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, riwayat keluarga hipertensi, diabetes, atau penyakit ginjal.
Penyebab Hipertensi dan Faktor Risikonya
Penyebab hipertensi dapat berbeda pada setiap orang. Pada sebagian besar kasus, hipertensi berkembang akibat kombinasi faktor genetik, usia, gaya hidup, dan kondisi kesehatan tertentu.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi antara lain:
1. Konsumsi Garam Berlebihan
Pola makan tinggi natrium atau garam dapat meningkatkan tekanan darah pada sebagian orang. Makanan olahan, makanan instan, makanan yang diawetkan, serta makanan dengan tambahan garam berlebihan perlu dibatasi.
WHO merekomendasikan agar konsumsi garam tidak berlebihan dan menyarankan asupan natrium kurang dari 2 gram per hari, setara dengan kurang dari sekitar 5 gram garam per hari. (World Health Organization)
2. Berat Badan Berlebih
Kelebihan berat badan dan obesitas berhubungan dengan peningkatan risiko hipertensi. Menjaga berat badan dalam rentang yang sehat merupakan salah satu bagian penting dalam pencegahan dan pengendalian tekanan darah.
3. Kurang Aktivitas Fisik
Gaya hidup sedentari atau terlalu banyak duduk dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis, termasuk hipertensi.
Aktivitas fisik secara teratur membantu menjaga kebugaran jantung dan pembuluh darah serta mendukung pengendalian berat badan.
4. Merokok
Zat dalam rokok dapat memberikan dampak buruk terhadap pembuluh darah dan kesehatan jantung. Berhenti merokok merupakan langkah penting untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.
5. Stres Berkepanjangan
Stres dapat memengaruhi tekanan darah melalui berbagai mekanisme. Selain itu, stres dapat mendorong kebiasaan kurang sehat seperti kurang tidur, makan berlebihan, merokok, atau kurang beraktivitas.
6. Faktor Usia dan Riwayat Keluarga
Risiko hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia. Riwayat keluarga juga dapat berperan terhadap risiko seseorang mengalami tekanan darah tinggi. (World Health Organization)
7. Penyakit Tertentu
Diabetes dan penyakit ginjal kronis merupakan beberapa kondisi yang berkaitan dengan peningkatan risiko hipertensi. Karena itu, penderita penyakit kronis perlu melakukan pemantauan kesehatan secara teratur.
Apa Saja Gejala Hipertensi?
Pada hipertensi ringan hingga sedang, sering kali tidak terdapat gejala yang spesifik.
Namun, pada tekanan darah yang sangat tinggi, seseorang dapat mengalami beberapa keluhan, seperti:
- Sakit kepala berat.
- Pusing.
- Penglihatan kabur atau perubahan penglihatan.
- Nyeri dada.
- Sesak napas.
- Mual atau muntah.
- Kebingungan.
- Jantung berdebar atau gangguan irama jantung.
- Mimisan pada kondisi tertentu.
WHO menekankan bahwa gejala-gejala tersebut terutama dapat muncul ketika tekanan darah berada pada tingkat yang sangat tinggi. (World Health Organization)
Dengan demikian, jangan menunggu sakit kepala atau pusing untuk memeriksa tekanan darah. Pemeriksaan rutin jauh lebih penting daripada menunggu munculnya gejala.
Kapan Harus Segera Mendapatkan Pertolongan?
Tekanan darah yang sangat tinggi disertai gejala tertentu dapat menjadi kondisi yang membutuhkan pertolongan medis segera.
Apabila tekanan darah mencapai sekitar 180/120 mmHg atau lebih, terutama jika disertai nyeri dada, sesak napas, gangguan penglihatan, kebingungan, sakit kepala berat, kelemahan atau keluhan neurologis lainnya, segera mencari pertolongan medis. (World Health Organization)
Jangan mencoba menurunkan tekanan darah secara drastis dengan obat atau cara tertentu tanpa arahan tenaga medis.
Cara Menurunkan Tekanan Darah Tinggi
Cara menurunkan tekanan darah tinggi perlu disesuaikan dengan kondisi setiap orang. Perubahan gaya hidup merupakan bagian penting dalam pengendalian hipertensi, tetapi sebagian penderita juga membutuhkan obat antihipertensi.
Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:
1. Kurangi Konsumsi Garam
Batasi makanan yang tinggi garam dan natrium. Biasakan membaca label makanan dan kurangi kebiasaan menambahkan garam atau penyedap secara berlebihan.
2. Perbanyak Sayur dan Buah
Pola makan sehat dengan lebih banyak sayuran dan buah dapat membantu mendukung kesehatan jantung dan pembuluh darah. Pilih makanan yang minim proses dan batasi makanan tinggi lemak jenuh serta lemak trans. (World Health Organization)
3. Rutin Beraktivitas Fisik
WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan setidaknya 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, atau 75 menit aktivitas intensitas berat, disertai latihan penguatan otot setidaknya dua hari dalam seminggu. (World Health Organization)
Aktivitas tidak harus selalu berupa olahraga berat. Jalan kaki, bersepeda, berenang, atau aktivitas fisik lain yang sesuai kondisi tubuh dapat menjadi pilihan.
4. Menjaga Berat Badan
Jika mengalami kelebihan berat badan, penurunan berat badan secara bertahap dapat membantu mengendalikan tekanan darah.
Program penurunan berat badan sebaiknya dilakukan secara realistis dan disesuaikan dengan kondisi kesehatan.
5. Berhenti Merokok
Berhenti merokok membantu mengurangi risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Jika mengalami kesulitan untuk berhenti, konsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan dukungan yang sesuai.
6. Kelola Stres dan Cukupi Istirahat
Manajemen stres, tidur yang cukup, serta menjaga pola hidup yang teratur dapat menjadi bagian dari strategi pengendalian tekanan darah.
7. Minum Obat Sesuai Anjuran Dokter
Pada sebagian penderita, perubahan gaya hidup saja belum cukup. Dokter dapat memberikan obat antihipertensi berdasarkan tingkat tekanan darah, risiko penyakit kardiovaskular, penyakit penyerta, usia, serta kondisi pasien.
WHO 2021 merekomendasikan terapi farmakologis bagi orang dewasa dengan hipertensi yang telah terkonfirmasi, dengan pilihan terapi dan target yang disesuaikan dengan kondisi pasien. (World Health Organization)
Jangan menghentikan obat hipertensi secara tiba-tiba hanya karena tekanan darah sudah normal. Tekanan darah yang terkontrol dapat merupakan hasil dari terapi yang sedang dijalankan.
Cara Mengatasi Hipertensi: Jangan Hanya Mengandalkan Gejala
Kesalahan yang masih sering terjadi adalah menganggap hipertensi harus diobati ketika muncul keluhan.
Padahal, hipertensi dapat berlangsung tanpa gejala. Oleh karena itu, cara mengatasi hipertensi bukan hanya menghilangkan sakit kepala atau pusing, tetapi mengendalikan tekanan darah dan menurunkan risiko kerusakan organ dalam jangka panjang.
Pedoman ESC 2024 menekankan pentingnya pengukuran tekanan darah yang akurat, termasuk penggunaan pengukuran di luar fasilitas kesehatan pada kondisi tertentu, serta pendekatan pengobatan yang mempertimbangkan kondisi dan toleransi masing-masing pasien. (Escardio)
Dengan kata lain, penanganan hipertensi sebaiknya dilakukan secara menyeluruh, bukan berdasarkan gejala semata.
Komplikasi Hipertensi yang Perlu Diwaspadai
Hipertensi yang tidak terkontrol dapat memberikan tekanan terus-menerus pada pembuluh darah dan organ tubuh.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko:
- Penyakit jantung dan serangan jantung
- Stroke
- Gagal jantung
- Gangguan atau kerusakan ginjal
- Gangguan pembuluh darah
- Gangguan penglihatan tertentu
Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular dan dapat menyebabkan kerusakan pada jantung, otak, serta ginjal apabila tidak dikendalikan. (World Health Organization)
Karena komplikasi dapat berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal, pemeriksaan berkala menjadi langkah pencegahan yang sangat penting.
Cara Mencegah Hipertensi Sejak Dini
Mencegah hipertensi tidak harus menunggu usia lanjut. Kebiasaan hidup sehat sebaiknya dimulai sedini mungkin.
Beberapa kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan antara lain:
- Periksa tekanan darah secara berkala.
- Kurangi konsumsi garam.
- Perbanyak sayur dan buah.
- Batasi makanan tinggi lemak jenuh dan makanan ultra-proses.
- Lakukan aktivitas fisik secara rutin.
- Pertahankan berat badan sehat.
- Hindari rokok.
- Batasi konsumsi alkohol.
- Kelola stres dengan baik.
- Periksa kesehatan secara berkala, terutama jika memiliki faktor risiko.
Bagi masyarakat Situbondo, pemeriksaan tekanan darah dapat menjadi bagian dari pemeriksaan kesehatan rutin, terutama bagi orang dewasa, lansia, atau mereka yang memiliki riwayat hipertensi dalam keluarga.
Jangan Tunggu Gejala untuk Memeriksa Tekanan Darah
Hipertensi tidak selalu memberikan tanda yang mudah dikenali. Seseorang dapat merasa sehat tetapi sebenarnya memiliki tekanan darah tinggi.
Karena itu, prinsip yang perlu diingat adalah:
Tidak merasa sakit bukan berarti tekanan darah pasti normal.
Pemeriksaan tekanan darah merupakan langkah sederhana, cepat, dan penting untuk mengetahui kondisi kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darah tinggi secara berulang, jangan melakukan diagnosis atau pengobatan sendiri. Konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan evaluasi dan rencana penanganan yang sesuai.
Konsultasikan Kesehatan Anda
Jika Anda atau keluarga memiliki tekanan darah tinggi, sering mendapatkan hasil pemeriksaan tekanan darah di atas normal, memiliki riwayat hipertensi, diabetes, penyakit ginjal, atau faktor risiko penyakit jantung, jangan menunggu munculnya gejala untuk berkonsultasi.
Segera lakukan pemeriksaan dan konsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Rumah Sakit Elizabeth di Situbondo untuk mendapatkan evaluasi kondisi kesehatan secara menyeluruh serta menentukan langkah pencegahan dan pengobatan yang tepat.
Jaga tekanan darah hari ini untuk melindungi jantung, otak, dan ginjal di masa depan.
FAQ Seputar Hipertensi :
Apakah hipertensi selalu memiliki gejala?
Tidak. Sebagian besar penderita hipertensi tidak mengalami gejala yang khas. Karena itu, pemeriksaan tekanan darah merupakan cara penting untuk mendeteksinya. (World Health Organization)
Apakah tekanan darah 140/90 mmHg termasuk hipertensi?
Menurut WHO dan pedoman ESC 2024, tekanan darah di fasilitas kesehatan ≥140/90 mmHg merupakan ambang hipertensi, tetapi diagnosis sebaiknya dikonfirmasi melalui pengukuran yang tepat dan berulang sesuai kondisi pasien. (World Health Organization)
Bagaimana cara menurunkan tekanan darah tinggi secara alami?
Perubahan gaya hidup dapat membantu, seperti mengurangi garam, memperbanyak sayur dan buah, rutin beraktivitas fisik, menjaga berat badan, berhenti merokok, serta mengelola stres. Namun, penderita hipertensi tertentu tetap membutuhkan obat dari dokter. (World Health Organization)
Apakah penderita hipertensi harus minum obat seumur hidup?
Tidak semua pasien memiliki kondisi yang sama. Lama terapi bergantung pada penyebab, tingkat tekanan darah, faktor risiko, penyakit penyerta, dan respons terhadap terapi. Jangan menghentikan obat tanpa berkonsultasi dengan dokter.
Kapan tekanan darah tinggi harus diperiksakan?
Tekanan darah sebaiknya diperiksa secara berkala, terutama jika memiliki faktor risiko. Jika tekanan darah sangat tinggi atau disertai gejala seperti nyeri dada, sesak napas, gangguan penglihatan, kebingungan, atau sakit kepala berat, segera cari pertolongan medis. (World Health Organization)
---------------------------------------------------------------------------------------
Referensi :
- World Health Organization (WHO). (2025). Hypertension – Fact Sheet. WHO. (World Health Organization)
- World Health Organization (WHO). (2021). Guideline for the Pharmacological Treatment of Hypertension in Adults. Geneva: WHO. (World Health Organization)
- McEvoy JW, et al. (2024). 2024 ESC Guidelines for the Management of Elevated Blood Pressure and Hypertension. European Heart Journal, 45(38), 3912–4018. (OUP Academic)
- European Society of Cardiology (ESC). (2024). 2024 ESC Guidelines for the Management of Elevated Blood Pressure and Hypertension. (Escardio)
- World Health Organization (WHO). (2025). Hypertension – Health Topic. (World Health Organization)
Catatan: Artikel ini bersifat edukasi kesehatan dan tidak menggantikan pemeriksaan serta diagnosis langsung oleh dokter.
HUBUNGI KAMI